Terkadang sebuah bangunan itu tidak perlu diteliti
Siapa arsiteknya?
Kapan bangunan itu dibuat?
Siapa penghuninya yang terakhir?
Karena kenyamanan itu bukan dinilai, namun dirasakan
Seperti saat Alya akhirnya memilih kamar B.180 di sebuah apartemen yang cukup sederhana, ia tidak begitu saja melupakan tempat tinggalnya yang lama. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal disana. Namun ia bersikukuh ingin pindah. Tidak tahu datangnya darimana pemikiran itu. Mungkin dari serbuk bunga yang terbawa angin, yang berasal dari pepohonan di sekitar rumahnya. Atau dari debu di atap genteng tetangga, yang berseberangan langsung ke jendela kamarnya.
Karena sekarang semuanya sudah berganti. Menyewa sebuah apartemen, hasil survey ke beberapa koneksi temannya. Apartemen tersebut memiliki 20 lantai, dengan setiap lantainya terbagi atas zona-zona. Zona A biasanya dihuni oleh pengusaha kantoran. Sedangkan di zona B sering sekali terlihat para transmigran yang singgah untuk mengadu peruntungan. Alya tinggal di zona C. Biaya sewa perbulannya tidak terlalu mahal. Yah untuk sekedar merebahkan badan selepas perkuliahan sehari suntuk cukup lumayan.
Berbulan-bulan lebih lamanya ia menempati apartemen itu. Tidak terlalu banyak bercengkrama dengan penghuni apartemen lainnya. Bagaimana tidak, berangkat jam 8 pagi, pulang jam 5 sore. Memang semester ini jadwal perkuliahannya sangat padat. Namun paling tidak ia sempat sekali dua kali mengobrol dengan penghuni di kamar B.181, yang berada tepat di sebelah kamarnya. Walaupun itu juga tidak sengaja.
Mungkin jarang sekali yang ingin menghabiskan berjam-berjam berbicara dengan lelaki yang perawakannya cukup garang seperti itu. Saat Alya menanyakan namanya, tanpa pikir panjang ia menjawab, "Saya Erland.." Terang saja, siapa yang tidak ingin berkenalan dengan wanita secantik Alya. Erland tidak kuliah di universitas ternama seperti Alya. Dia tidak terlalu pintar. Seringkali ditemui pakaian yang dikenakannya berantakan. Dia juga tidak terlalu tampan. Tetapi entah kenapa, setiap Alya berbicara, seperti ada sesuatu yang menarik keingintahuannya lebih dalam. Pandangan matanya sangat tajam, seperti rajawali yang hendak menelusuri karakteristik hewan lain di sekitarnya. Serupa seperti namanya, Erland. Yang dalam bahasa Jerman, bermakna "Rajawali".
Berawal dari situlah, ia mulai terbiasa mengakhiri hari-harinya dengan bercerita kepada Erland tentang kesehariannya. Sambil meneguk secangkir kopi. Padahal ia tidak boleh meminum kopi. Ia adalah penderita OCD, Obsessive Compulsive Disorder. Kafein di dalamnya dapat meningkatkan kepanikan dan rasa khawatir yang berlebihan. Namun menghabiskan waktu bersama Erland, membuatnya merasa aman dan tenang. Sepertinya lelaki itu menjadi penawar baginya. Lalu Erland pun juga merasakan hal yang sama. Dua tahun setelah Erland lulus kuliah. Ia menerima permintaan Erland untuk menemaninya seumur hidup. Akhirnya, Erland pindah bersamanya ke dalam sebuah rumah kecil sederhana yang memiliki kebun yang indah.

Sometimes when you see her smile, there are things you dont need to know
Is it you who makes her smile?
When did the last smile she throw at you?
Should you take the smile seriously or instead?
B'cos you better risk being happy, rather than being certainly miserable
No comments:
Post a Comment