05 February 2011

Tatapan Cemburu Malaikat

Kehidupan di SMA adalah saat-saat yang paling tidak terlupakan. Itu kata mereka. Ya aku mengakuinya. Semua hal yang belum aku pernah alami sebelumnya, terjadi saat itu. Rana adalah orang pertama yang bisa memaklumi segala keanehan aku ini. Selama 15 tahun, aku melihat teman yang lain hanya ada di saat bersenang-senang. Bahkan yang lebih menyedihkannya, mereka membicarakan aku di belakang mereka. Yah walaupun tidak semuanya juga. Dan Rana itu berbeda dari mereka. Namun sungguh, aku tidak pernah merencanakan untuk memiliki seorang sahabat saat itu.

**

“Teeeet!”, bel di kelas berbunyi. Jam di kelas menunjukkan jam 07.30. Saat itu aku sedang berdiri di beranda depan kelas yang mengarah ke lapangan sekolah, memandangi gedung di seberang yang sedang dibangun. Bahkan aku lupa, tempat itu sebelum dibangun adalah apa. “Hel, aku ke kelas dulu yah!”, Rana berteriak sambil berjalan mengarah ke kelasnya, “Oh ya, jangan lupa nanti ke kantin bareng-bareng”. Aku pun menganggukkan kepala dan tersenyum, pertanda setuju.

Anak-anak yang masih berada di luar kelas, satu persatu masuk ke dalam. Setelah masuk aku duduk di bangku ketiga dari depan, tempat kesukaanku di kelas. “Hei Nau, sudah mengerjakan PR yang Pak Harun kasih kemarin belum?”, tanyaku sambil menaikkan sebelah alis. “Haha, sudah. Tetapi ada beberapa nomor yang belum”, Nauri menjawab, lalu menepuk ringan pundakku, “Kamu sendiri?”. “Sudah, kemarin dibantu oleh mba Lia”, aku membalas dengan memasang wajah puas. Tanpa sadar pak guru sudah dari tadi berada di depan kelas, menyiapkan materi yang akan diajarkan.

**

“Rachel, kemarin Andra nembak aku!”, Rana tertawa kecil sambil menelusuri jalan pulang yang sedang kami lewati. Aku sebenarnya lebih suka naik ojek untuk sampai ke jalan besar, karena jaraknya lumayan jauh. Tetapi bujukan Rana untuk pulang bersama dan bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi setiap hari, selalu berhasil meluluhkan keinginanku. “Yang benar saja kamu, Na?”, dengan terkaget-kaget aku menanyakannya. Aku tidak begitu saja percaya, karena selama ini ia tidak pernah bercerita tentang lelaki yang bernama Andra itu.

“Kapan ia nembak kamu, Na?”, tanyaku. “Tadi siang, Hel!”, jawabnya sambil tersenyum lebar. Dan ia pun bercerita panjang lebar mengenai kedekatannya dengan Andra. Yang ternyata lelaki itu adalah teman SD nya. Pernah suatu kali Andra menuliskan surat cinta, lalu ia meletakkannya di dalam laci kelas. Karena pikirnya, tidak akan ada yang dengan sengaja merogoh-rogoh tempatnya itu. Namun di luar dugaan, kakak kelas yang sering bermain di kelasnya, menemukan surat itu. “Hei hei, ada surat nih dalam laci!”, sambil setengah berteriak, Ardi berlari ke depan kelas.

Ia pikir akan ada beberapa paragraf yang berisikan kata-kata indah, tetapi mau berharap apa pada seorang anak kecil yang masih berumur 8 tahun? Mengucapkan cinta saja masih terbata-bata. “Rana, aku suka kamu..”, Ardi memeragakan sambil meletakkan tangan di dadanya. Dan sesaat kelas pun penuh dengan tawa dan sorak-sorai. Andra dan Rana sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Mereka hanya diam seribu bahasa. Ingin merespon surat itu pun, Rana sangat kebingungan harus berbicara apa.

Tanpa terasa kami sudah sampai ke ujung jalan besar. Kutatap Rana yang masih bersemangat, setelah menceritakan seluruh kejadian yang baru saja ia alami. “Na, aku pulang dulu yah”, teriakku yang segera menaiki angkutan umum yang berhenti di depan supermarket, “kamu hati-hati!”.

**

Aku tidak pernah bosan untuk selalu bersamanya. Mungkin Allah telah mengirimi aku seorang sahabat dari surga. Tidak pernah sekalipun terselip rasa lelah ataupun jengkel ketika bersamanya. Sekalipun salah satu di antara kita melakukan kesalahan, beberapa jam kemudian kami sudah melupakannya. Aku sering telat di saat janji untuk bertemu. Aku tidak pintar, lucu atau cantik, apalagi populer di sekolah. Dan juga aku bukan orang paling menyenangkan yang pernah ia temui. Namun Rana membuat aku merasa orang yang paling beruntung, karena ia selalu ada di saat aku senang ataupun terluka. Aku yakin, aku bisa membuat malaikat cemburu melihat aku memiliki teman sepertinya.

*)Dedicated to: Melita, Nauri, Nance, dan Juju

Aku sayang kalian, jangan pernah berubah yah sampai nanti kita tua. Cupcupmuah!

1 comment:

Friends