03 July 2012

Kamya

Hai, namaku Kamya. Aku wanita pendongeng di balik layar. Aku ini bukan buruh berbayar, hanya buruh pikiran.

Oke, di antara kamu pasti ada yang pernah menemukan sebuah buku menarik di antara ratusan rak-rak yang terdampar di toko buku. Belakangan ini aku mengalaminya. Tahu kemana arahku berbicara? Baik, jadi buku itu menggelitik aku untuk menulis lagi. Makanya aku disini sekarang.

Enam tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang laki-laki. Dia teman sekelasku. Orang tuanya memberinya nama, Inan. Aku beritahu saja, Inan itu lelaki pemalas. 

Dia itu malas melewatkan akhir minggunya tanpa adiknya. Seringkali Inan sempatkan kaki-kakinya mengayuh sepeda sembari menemani adiknya atau sekedar membawa uang untuk dibelikan es krim bersama-sama.

Inan dan aku bertetangga. Kadang kami bersenda gurau ditemani lapangan gersang di samping rumah. Lapangan itu jarang dipakai, kecuali oleh sesosok laki-laki berumur dua puluhan. Yang ini namanya Gira. Yang kutahu dia bersahabat dengan sebotol kecap. Tidak denganku. 

Faktanya, aku tidak pernah menambahkan satu tetes kecap pun ke dalam semangkuk bakso yang disajikan hangat-hangat di stasiun kober. Aku tidak tahu, apa bedanya bakso kober dengan bakso yang lain. 

Maksudku, makanan itu hanya daging yang dilapisi tepung, lalu dibentuk bulat-bulat, direbus di dalam air mendidih, dan berakhir di dalam pencernaanmu. Tetapi memanjakan lidahmu dengan bakso ditemani teman-teman sepulang kuliah, suasana orang lalu lalang, dan suara kereta yang memantul dari dinding ke atap langit membuatnya berbeda.  

~to be continued

No comments:

Post a Comment

Friends